Rabu, 23 Februari 2011

sebuah pelajaran tentang persepsi

benar2 merasa tak enak hati.trnyata persepsi org brbeda-beda.penyikapannya pun harus brbeda.mencoba utk lbh bijak lg :'(
benar2 sedih mendengar pernyataan seperti itu. tak sekalipun trbersit salam pikiran untuk meremehkan orang lain. hanya sekedar mengingatkan. mungkinkah ad yg salah dng kata2ku?
"Biarlah yang putih menganggap diri putih ,,, karena buat saya hitam adalah identitas !!!!
Kita orang memang sudah dianggap hitam ,,, terlalu keruh ,,,,
Apapun yang kita lakukan ,, sebetul apapun itu ,, seputih apapun itu ,,, tetap saja dianggap hitam ,,,
NEVERMIND !!!!
Jika kau tak mampu menjadi pohon yang besar diatas bukit ,, maka jadilah saja kau rumput yang memperkuat tanggul air ,,
Jika kau tak mampu menjadi jalan raya yang besar ,, jadilah saja kau jalan setapak kecil yang menuju mata air
Sebaik-baiknya engkau jadilah diri sendiri ,,, !!!!

Tuhan maha sempurna ,, dan tidak sembarangan menciptakan manusia. Jd, jangan pernah anggep remeh orang lain dan merendahkan orang lain ,, itu sama artinya menjelekan hasil ciptaan-Nya ,, ya gaaa ???
Ilmu gw cetek ,, gw juga lagi belajar DENGAN CARA GW SENDIRI !!!!
Gw cuma bisa ngomong dengan apa yang gw tau ,,, So ,, please stop !!
Ga mau ribut ,, ga perlu juga ribut ,,
Gw hormati dan hargai elu dengan segala kehebatan yang melekat pada diri elu ,,,
Udahlah nevermind
Gw bisa maklum kok
Namanya juga orang ,,,
Yang pasti ,, gw juga tau apa yang harus gw lakuin ,, yang tau kan diri kita masing masing ,,, Dengan kedewasaan yang kita miliki ,, tentu kita bisa sikapi dengan bijak ,, "

huft...masya Allah.,memangnya ap yg sdh aku lakukan shg ia brkata sperti itu.sedih sangat..
berkali-kali kubaca potongan percakapan itu yg membuat diri ini cukup sedih atas kekurangbijakanku.
aku bukan seorang yang hebat.,aku jg bukan seseorang yang putih seputih akhlak Rasulullah.aku tidak menggurui,aku jg tidak meremehkan.tak terbersit sekalipun pikiran seperti itu.
Y Robb..berilah kelapang hati kepadaku dan kepadanya.
smg ia tau tujuanku yg sebenarnya.
benar2 suatu pelajaran yg sangat brarti utk menyikapi persepsi yg berbeda-beda.tak semua orang memiliki pemahaman yg sama.
smg bs mnjadi lebih bijak..

Rabu, 09 Februari 2011

Malam Bersama Ibu

Malam-malam yang tak pernah kulupakan dalam hidupku,
Cuma aku dan Ibu, berdua saja.

Jika bulan penuh bulat, langit terlihat terang dan udara malam terasa hangat.
Ibu akan mengajakku keluar rumah menikmati suasana itu
Melalui pepohonan dan semak-semak rendah
Aku dapat memergoki binatang-binatang malam yang bersembunyi tinggi rendah di antaranya
Melompati parit kecil dan menerobos pagar kayu yang sudah lapuk dimakan lumut
Ibu selalu tahu jalan pintas walaupun berliku
Aku merasa seperti salah satu tokoh petualang cilik dari kisah Lima Sekawan

Di antara pohon-pohon ramping yang menjulang di atas kami
Ibu akan mengajakku berhenti sejenak
Meresapi desiran angin malam dan suara burung

“Kamu dengar itu, Nak?” bisiknya perlahan. “suara pohon-pohon dan hewan sekitarnya, mereka sedang berdoa. Dan burung di atas sana ikut turut juga.”

Aku hanya mendengar desiran daun dan kukuk burung malam.
Aku berusaha keras mendengar, tapi hanya suara yang sama yang kudengar.
Dan kedengarannya bukan seperti doa yang biasa kuucapkan sehabis shalat.

Namun aku tak peduli, karena suasana terasa syahdu.
Karena selalu terasa aman bersama ibu. Kupegang erat tangannya sambil mengangguk.

“Mereka berdoa, memuji Penciptanya, memuji Allah, sama seperti yang biasa kau lakukan”

Aku menunduk berusaha berkonsentrasi penuh mendengarkan suara di sekitarku.
Tapi tetap tidak sama dengan apa yang kuharapkan. Setelah menunggu sejenak, kutatap ibu lekat-lekat, dan mengangguk kuat-kuat. Berusaha meyakinkannya.

Kemudian dia akan tersenyum dan menarik tanganku.
Kami akan berlari kecil hingga ke tepi hutan kecil kami. Ke tepi sungai.

Bulan bulat penuh, cahayanya yang keemasan menimpa air sungai yang sedang pasang naik.
Kami akan duduk di atas jembatan kayu.
Menjulurkan kaki, membiarkan riak-riak sungai menyentuh jemari-jemari kakiku.
Jika aku berdiri, kulihat bayanganku dan bayangan bulan di sungai.
Begitu besar, hanya aku dan bulan, di atas sungai yang keemasan.
Begitu besar, hanya aku dan bulan.

Ibu menunjuk ke atas, langit cerah dan bintang-bintang berserakan.
Bulan terlihat begitu besar dan indah.
Lebih indah dari bayangannya di sungai dan bayanganku sendiri.
Terlihat lebih indah dan lebih besar dari semua yang bertaburan di langit dan di layar malam.

Ibu akan memelukku sambil menyelusupkan jari jemarinya di antara rambutku.
Aku terasa aman dan hangat di pelukannya.

Seperti tahu apa yang kupikirkan, ibu berkata “lihat bukit nun di kegelapan sana”

Mereka terlihat begitu besar dan menakjubkan.
Bulan terlihat kecil, dan aku merasa begitu kecil.

“Mereka juga sedang berdoa, kau dengar itu?”

Deburan riak air sungai yang keemasan, bulan bulat penuh dan diam, dan gundukan bukit hitam nun jauh; tapi aku kini seperti mendengar mereka sedang berdoa.
Sekitarku sedang berdoa dan kedengaran begitu riuh.

“Mereka berdoa memuji Penciptanya, memuji Allah, memuji Dia yang lebih besar dan lebih indah dari semua yang kau saksikan sekarang ini. Dan begitulah hidup semestinya, Nak.”

Aku mencari dada ibu dan menelekan kepalaku ke dalamnya sambil menatap semesta.
Ibu akan membelai rambutku, wajah ibu terlihat kemerahemasan ditimpa sinar bulan.

Kembali pulang, ibu akan menggendongku di punggungnya.
Angin malam membuat jemari kakiku yang basah terasa dingin.
Sambil berpeluk punggungnya aku dapat merasakan detak jantungku dan detak jantung ibu.
Kudengar detak jantung kami seperti menyanyikan doa, doa yang sama seperti doa pepohonan, doa desiran angin, doa burung malam, doa deburan air sungai dan doa alam raya malam itu.

Tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.
Malam-malam dimana cuma aku dan ibu, berdua saja.
Malam-malam saat Ibu mengajarkan aku mendengarkan sekitarku.
Menyaksikan alam raya berdoa, memuji namaNya, Maha Suci Allah.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/malam-bersama-ibu/

~* PeSan HIDUP dari BOCAH peNjUaL KORAN.....SUBHANALLAH...*~

Bismillahirrohmanirrohim.......( Kisah yg menyentuh hati s'moga bermanfaat....:)

Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah.

Di perempatan jalan, Umar, seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.

“Korannya Bu !”seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang.

“Mau koran yang mana bu?, tanya Umar dengan riang.

”Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca”, jawab si ibu.

Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, ”Terima kasih bu, saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya”, Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari dalam mobil dia menggerutu ”Udah miskin sombong!”. Kakinya menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau. Meninggalkan Umar yang termenung penuh tanda tanya.Umar berlari lagi ke pinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh.Tangan kecilnya sesekali mengusap muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan di depannya, ”Ya Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang laku”, gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar.Tiba-tiba didepannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat sampah,”Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk”, dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil. Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada di mobil. ”Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan”, pinta Umar dengan penuh harap. Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil di depannya. Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya.

“Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau”

”Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?, tanya Umar sekali lagi.”Bbbbbooolehh”, jawab pria tersebut dengan tertegun. Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya.

Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk di dekatinya Umar.

”Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus meminta ijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?, dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil di depannya dengan penuh perasaan kasihan.”Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya ”, jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa. ”Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basah dan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”.Si anak kecil tersenyum dengan manis,

”Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus.”

”Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran di mana aku yang akan mentraktirnya”, ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak di depannya berfikir keliru.

Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yang sangat teduh,”Bapak!, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya”, Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali, ”Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini, bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali di kemudian hari.”Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki di depannya untuk berpamitan.Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali,”Kalau hari ini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya saya menginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka saya sangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya”.

Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil di depannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi.”Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, Harusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini”.

Teman ~ teman mariLah kita sama2 berkaCa pada sang anak waLaU pun sediKit ia masih mampu meNOLak pemberian yg lebih banyak bersyukurLah dgn apa yg kita miLiki sekarang karna kita sbg maNusia tdK akn pernah merasa pUas tapi, tapi jgn Lupa sesUatu yg sediKit itu bisa memberi kita kepUasan asaLkan kita memperOLeh nya dgn cara yg haLaL.....

sumber : http://www.facebook.com/notes/nhana-razak-sayidina/-pesan-hidup-dari-bocah-penjual-koransubhanallah/189914901020130